Sabtu, 26 Juli 2025
"Kenapa Islam Mengharamkan Babi".alannya lebih menakutkan dari pada yg kita kira
Babi… hewan yang dianggap biasa di banyak negara, bahkan menjadi makanan favorit di berbagai belahan dunia. Namun, dalam Islam, hewan ini adalah salah satu makanan yang paling tegas diharamkan. Kenapa Islam begitu keras melarangnya? Apakah hanya karena perintah agama, atau ada alasan ilmiah di balik larangan ini? Mari kita kupas tuntas rahasia di balik pengharaman babi menurut Islam dan sains."
"Pertama dan yang paling utama, larangan memakan babi datang langsung dari Allah. Dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah ayat 173, Allah berfirman:
‘Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih bukan atas nama Allah.’
Ayat serupa juga ditegaskan dalam surah Al-An’am ayat 145 dan An-Nahl ayat 115. Artinya, larangan ini bukan sekadar budaya atau kebiasaan, melainkan perintah syariat yang wajib ditaati oleh setiap muslim. Sebagai orang beriman, alasan utamanya cukup satu: karena Allah memerintahkan kita menjauhinya."
Kisah penciptaan babi juga berkaitan dengan tikus dan kucing. Hal ini dijelaskan dalam sebuah buku berjudul "Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman" karya Syaikh Muhammad Bin Ahmad Bin Iyas.
Dalam penjelasan, saat itu pada masa Nabi Nuh AS. Bahtera Nabi Nuh yang juga ditumpangi hewan begitu penuh dengan kotoran hewan. Para umat yang menumpangi bahtera itu kemudian melaporkan kepada Nabi Nuh.
Setelah itu, Allah SWT memberikannya Wahyu kepada Nabi Nuh untuk memeras ekor gajah. Setelah melakukan perintah Allah SWT, kemudian munculah babi jantan dan babi betina. Babi itu kemudian membersihkan kotoran-kotoran tersebut dan memakannya.
Babi tersebut kemudian tiba-tiba bersin dan tiba-tiba Allah menciptakan dari bersin tersebut hewan tikus jantan dan betina. Tikus tersebut kemudian berkembang biak dan kawanan tikus itu mulai menggigit merusakkan kayu-kayu di bahtera.
Para umat yang mengetahui kembali melaporkan pada Nabi Nuh. Dari situ, Nuh kemudian mengerahkan kawanan kucing untuk memangsa tikus. Sampai akhirnya, hingga saat ini tikus dan kucing bermusuhan.
"Namun, Islam bukan agama yang asal melarang. Setiap larangan pasti memiliki hikmah. Dan ternyata, di balik larangan memakan babi, terdapat alasan yang sangat rasional, baik dari sisi kesehatan, kebersihan, maupun moral manusia."
"Babi dikenal sebagai salah satu hewan yang paling kotor. Mereka memakan hampir apa saja—termasuk kotoran, bangkai, bahkan sampah busuk. Akibatnya, tubuh babi menjadi sarang berbagai parasit dan cacing berbahaya. Salah satu yang paling terkenal adalah cacing pita (Taenia solium) dan cacing Trichinella spiralis, yang bisa menyebabkan penyakit serius seperti trichinosis dan kerusakan otot pada manusia."
"Daging babi memiliki kadar lemak jenuh yang sangat tinggi. Lemak ini sulit dicerna tubuh manusia dan berpotensi menyumbat pembuluh darah, meningkatkan risiko obesitas, kolesterol tinggi, hingga penyakit jantung."
"Penelitian juga menunjukkan bahwa babi bisa menjadi media penyebaran berbagai virus berbahaya, seperti flu babi (H1N1), Nipah virus, hingga Hepatitis E. Tidak heran, konsumsi daging babi di beberapa negara pernah menyebabkan wabah mematikan."
"Selain alasan medis, Islam juga mengajarkan umatnya untuk menjaga kesucian dan kehormatan. Babi adalah hewan yang hidupnya cenderung jorok, sering berkubang di lumpur kotor, bahkan memakan kotorannya sendiri. sehingga dagingnya berpotensi terkontaminasi oleh bakteri dan kuman.
Islam mengajarkan kebersihan sebagai sebagian dari iman—maka, menghindari hewan seperti ini adalah bagian dari menjaga kehormatan diri."
Babi dapat menjadi inang bagi berbagai macam penyakit dan parasit berbahaya, seperti cacing pita (Tenia solium) dan trichinosis, yang dapat ditularkan ke manusia.
Daging babi memiliki kemampuan menyerap racun dan zat berbahaya lebih banyak dibandingkan hewan lain, sehingga berisiko bagi kesehatan.
Babi memiliki kebiasaan makan yang jorok dan tidak higienis, yang dikhawatirkan dapat memengaruhi perilaku orang yang mengonsumsinya.
Beberapa ulama mengaitkan sifat-sifat babi yang tidak terpuji, seperti tidak memiliki rasa malu, dengan potensi dampaknya pada perilaku manusia.
Meskipun ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa daging babi modern yang dipelihara dengan baik mungkin lebih bersih, namun larangan dalam Islam didasarkan pada prinsip-prinsip yang lebih luas dan menyeluruh, tidak hanya pada aspek kesehatan.
Menurut Harry Freitag, Dosen Program Studi Gizi Kesehatan Universitas Gadjah Mada (UGM) daging babi dianggap berbahaya karena adanya potensi infeksi cacing pita. Harry menjelaskan bahwa daging babi memiliki risiko parasit yang lebih tinggi dibandingkan dengan daging hewan lainnya.
“Jadi, daging babi memiliki risiko tinggi mengandung parasit Trichinella spiralis atau roundworm, Taenia solium atau tapeworm, dan Toxoplasma gondii,” kata Harry dikutip dari Kompas.com.
Harry menyebut bahwa seiring berkembanganya kemodernan zaman, kasus cacing pita pada daging babi mulai berkurang. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah adanya cacing pita pada daging babi adalah dengan memasak daging sampai benar-benar matang.
Sejalan dengan Harry Freitag, Dokter Spesialis Gizi Klinik MRCCC Siloam Hospital, Jakarta Selatan, dr Inge Permadhi juga mengungkapkan bahwa daging babi bisa menimbulkan infeksi parasit yang disebabkan oleh cacing pita dan cacing Truchinella Spiralis.
“Daging babi juga berisiko menyebabkan infeksi parasit, sehingga tidak boleh dikonsumsi mentah atau setengah matang,
Mengutip Kementerian Agama Sumatra Barat, ada banyak fakta ilmiah yang menjelaskan soal akibat buruk memakan daging babi. Salah satunya adalah struktur DNA daging babi memiliki kemiripan dengan struktur DNA manusia, baik struktur internal maupun struktur DNA kulit luarnya, sehingga tak heran apabila daging babi sering digunakan sebagai pengganti anatomi manusia dalam praktik mahasiswa kedokteran. Kesamaan struktur tersebut membuat daging babi sulit dicerna oleh proses metabolisme tubuh manusia. Daging babi punya back fat yang tinggi dan mudah mengalami oxidative rancidity, sehingga secara struktur kimia tidak layak dikonsumsi.
Alasan ilmiah lainnya dijelaskan oleh Prof. Rachman Noor, Pakar Genetika Ternak dalam bukunya yang berjudul “Rahasia dan Hikmah Pewarisan Sifat.” Disebutkan dalam buku tersebut bahwa babi memiliki tingkat kesamaan SINE (Short Intersperse Nucleotide Element) dan LINE ( long Intersperse Nucleotide Element) yang sangat tinggi dengan manusia, sehingga memakan daging babi dapat dinilai sama seperti kanibal dan dikhawatirkan bisa mengakibatkan kelainan pada generasi berikutnya.
Di sisi lain, babi adalah binatang yang memiliki air seni melimpah, sehingga air seni tersebut masuk ke dalam darah, bahkan mengotori dagingnya. Akibatnya, bau daging babi sedikit lebih amis dibandingkan dengan daging sapi atau hewan lainnya. Selain itu, kandungan asam urat pada daging babi juga lebih besar jika dibandingkan dengan hewan lain. Jika dikonsumsi, asam urat akan menjadi sampah dalam darah. Asam urat sendiri terbentuk dari akibat metabolisme yang tidak sempurna yang diakibatkan oleh kandungan urine dalam makanan. Secara normal senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan 98 persen asam urat dalam tubuh dikeluarkan melalui urine dan dibuang melalui air seni.
Namun, bagi seorang muslim, alasan terpenting bukan hanya kesehatan. Larangan ini juga menjadi ujian ketaatan. Ada banyak hal yang mungkin secara logika manusia tampak sepele, tapi Allah ingin melihat siapa yang taat pada aturan-Nya tanpa banyak membantah. Sama seperti shalat, puasa, atau zakat—menghindari daging babi adalah bentuk ketaatan kita sebagai hamba-Nya."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar